Jumat, 30 September 2011

PUISI MAKHLUK GAIB


KARYA : SEPTIA MILANDA

Zaman telah berubah
Tiada lagi manusia yang percaya
Hanya orang pintar
yang tau keberadaannya

Ada yang percaya
tapi tak sesuai dengan logika
Mereka itu ada tapi tak terlihat dengan mata
Sulit untuk meyakinkan hati
ibarat terbang tanpa sayap
Bawasanya mereka itu ada disekitar kita

Semarak senja telah memudar
Kegelapan mulai menampakkan dirinya
Tiada suara yang terdengar
Ibarat dunia ditelan malam

Angin yang meraung kencang
membuat teror ketakutan
Malam yang menebarkan keremangan
 dibawah pohon besar

Aroma sepi
membuat bullu kudukku berdiri
Disana nampaklah
gadis berkain putih

Hollywood, April 2011

PUISI SAHABAT SEJATI


Goresan Tinta Emas : Septia Milanda

Saat kukenang kau di hatiku
Aku teringat gemuruh canda tawamu
Hatiku merasa rusuh jika tak bersamamu
Aku disini sangat merindukanmu
Bagai burung yang menantikan induknya
Aku takut kau meninggalkanku
Tumpahkan tangis diatas tampah

Sahabat sejati
Engkaulah curahan hatiku
Jiwaku, jiwamu bagaikan satu jiwa dalam dua tubuh
Aku dan dirimu yak lekang oleh waktu
Tempatku berbagi cinta kasih denganmu
Ingatlah semua kenangan bersamaku


 Sand T, Mei 2011

Senin, 26 September 2011

PUISI MAAFKANLAH AKU


MAAFKANLAH AKU
goresan Tinta Emas : Septia Milanda

          Dari kesalahan
 aku belajar berbuat kebaikan
Dari perbuatan
aku belajar mengihklaskan

Aku tak sempurna ahli surga
dan aku bukanlah malaikat
yang tak luput dari dosa
Aku hanyalah manusia biasa
yang punya salah dan dosa

Maafkanlah diriku
atas celotehan mulutku
yang menusuk hingga di jantungmu
Karena beginilah aku

Seiring dengan bergulirnya waktu
akan aku coba merubah semua sifatku
Aku mohon padamu
Maafkanlah aku,,,

;(
Hollywood, 26 september 2011

PUISI ANTARA CINTA DAN PERASAAN

 
Goresan Tinta Emas : Septia Milanda
            Air mata menakung di pipih
            Nirwana hati telah dibawah pergi
            Tiada hari kulewati sendiri
            Antara benci dan cinta kasih
            Riuh tangis suara hati
            Antara dia dan perasaan ini
            Curahan hati yang perih
            Ingin mendaur ulang takdir
            Niscaya semua ini tak terjadi
            Takdir yang sudah dikehendaki
            Akan mustahil untuk kembali lagi
            Dayu-dayuan kecewa
            Amat pedih, menambah belati luka
            Nan kini, kian menjadi
            Perahu tanpa dayung
            Entah kapan akan mengapung
            Rindu yang rancu
            Asing merepih, tanpa dirimu
            Sepetak harapan mati
            Akar melepuh menjadi abu
            Alangkah pedih  mengiris hati
            Nada-nada luka semakin menjadi
Hollywood, 26 September 2011

Minggu, 25 September 2011

Semusim Pelangi di Taman Hati


 LOMBA MENULIS TENTANG SEPTEMBER

senja mulai memudar
kegelapan mulai menampakkan wajahnya
gemerlap bintang berhamburan
membuat dewi malam mengintip di balik awan
riuh tangis seorang buah hati
yang telah lahir di dunia ini
menghadirkan pelangi di taman hati
mewarnai september di bulan ini
buih-buih kegembiraan
suara tawa yang membenamkan hati
di peluk kebahagiaan
hangatnya cinta kasih
sehangat sinar mentari
lalu bidadari kecil tersenyum kecil
dan mulai berlabuh di pulau mimpi
bulan pun berlabuh
kini mentari mulai menyala
aroma wangi dimana-mana
nyanyian burung diatas kehijauan
membuat pohon-pohon bergoyang riang
dayu-dayuan angin menerpah tubuhku
sepiring matahari dan horison cerah
menambah semusim pelangi
di taman hati

PUISI SANG PEJUANG


Goresan Tinta Emas : Septia Milanda

aku berdiri dan termenung
di dekat gungung yang diapit dua batu
ada rasa peluh dalam jiwaku
ada rasa kesal dibenakku
mengapa ku tidak lahir lebih dulu
pasti sekarang kau bisa melihatku

hidup pada masamu
sangatlah sulit bagiku
tapi hidupmu pada masamu
kau anggap sangat berharga

karna waktu bagimu  
bak emas dan permata
bagimu waktu bagaikan pedang
apabila kau lalaikan akan melukai dirimu
kau gunakan pedangmu
untuk mencapai puncak tertinggi
hingga bangkitlah negeri ini
dan kami bisa hidup bebas
ibarat seekor kupu-kupu

kanku kenang selalu jasamu
di dalam sanubariku

oh,,, Pahlawanku

Sabtu, 24 September 2011

“SEMANGAT KEHIDUPAN”


Karya : Septia Milanda

Hidup tanpa orang tua
bagai hidup sebatang kara
hidup tanpa sahabat
bagai hidup tak terarah

kini ku bagai seekor cacing
di tempat yang  kelam, sunyi senyap
tiada suara yang terdengar

aku tak diperdulikan lagi
seolah-olah aku telah lenyapdari bumi ini
aku tak mengerti
mengapa semua ini terjadi

mungkin ini karmah bagiku
karena Tuhan telah menghukumku
suara hati berbisik padaku
mengapa aku tidak mati saja

mungkin itu lebih baik bagi mereka
karena hidupku, mimipku dan citaku
telah hilang, lenyap dan sirnah

kini hanya ada aku sendiri
bersama anganku yang telah sirnah


Diselesaikan tanggal      : 10-April-2011
Diperbaharui tanggal     : 13-April-2011

“Puisi Kehidupan Alam”


Tema   :  Lingkungan Hidup                                             Karya : Septia Milanda
Judul   :   Kehidupan Alam

Memandang lepas di taman hijau
Berhembus angin menerpah diriku
Menghirup udara pagi nan segar
Bak melayang-layang di atas awan

Tiupan angin yang begitu kencang
Membuat pohon-pohon bergoyang senang
Dan burung-burung bernyanyi riang

Aku bagai di taman surga
Merah, kuning dan hijau bermekaran disana
Serasa dunia penuh dengan warna

Kini apa yang terjadi ?
Semua itu telah sirna dan musnah
Oleh manusia yang tak bertanggung jawab
Kini taman hijau berubah menjadi taman gersang

Banyak hewan yang mati karena kekeringan
Suara hati berbisik padaku
Mengapa manusia itu  tidak hilang, lenyap dan musnah
Semoga Tuhan memberikan balasan pada mereka


NB :
  Diselesaikan   Tanggal : 13-April-2011

PUISI BROKEN HEART


Puisi : Luka Disini
Goresan Tinta Emas : Septia Milanda

Harapan mati mulai ditanam
menanak perih di dalam hati
Engkau ada yang memiliki
kini kecemburuan mulai memburu

            Harapan yang terpiuh
            laut yang membusuk
            dan sungai yang menghitam
            menambah hati yang kelam

Setiap kenangan kini memudar
air mata membasahi pipi
di bilik rindu pada kekasih
hanya tafakur di dalam perih

            Sayap yang patah sebelah
            membuat relung jiwa yang gelisah
            Tapi aku harus merelakanmu
            demi cintamu yang baru

Sant T, 30 aug -11

Puisi Janji Palsu


Goresan Tinta Emas : Septia Milanda

Kata-kata dari mulutmu
bagaikan ular berbisa
tidak ada yang dapat dipercaya
Umbar senyummu
harap manis dalam empedu
yang teramat pahit
Alunan suaramu
bagaikan senandung nestapa
celotehan bisu ungu dalam riuhmu
membuka pintu segala kegelapan
Kau biarkan penguasa kekenyangan
dan kami kurus kering tinggal tulang
kau menjilati lendirmu yang berceceran
hingga aroma busuk bermekaran
Itulah janji palsumu
sepatah kata dari mulutmu
ibarat pisau tajam yang menusuk jantung kami
kau ingin membuang sampah masyarakat
tetapi kau menjilati ludahmu sendiri
Derita rakyat yang menjadi-jadi
orang pinggiran hanya bisa menanak perih
mengenadah sepanjang hari
karena janji palsumu

Sand T, 06 Juli 2011

Puisi Menulis


Karya : Septia Milanda

Menulis adalah bagian dari hidupku
tanpa menulis dunia begitu hampa
tiada hari kulewati tanpa dirimu
secarik kertas dan goresan tinta emas
Kau tempatku mengaduh semua keluh kesahku
sedih, susah, senang, dan bahagia
tanpa dirimu bersamaku
bagaikan separuh jiwaku pergi

Mengukir sebuah kata menjadi untaian kalimat
Elok nan indah ketika dibaca
Nada-nada setiap kata
Ungkapkan semua perasaan dalam jiwa dan raga
Lantunan setiap nada kata
Isyaratkan menulis sudah menjadi darah daging di jiwa
Sesayap rindu jemariku tak lepas darimu

Kegemaranku terhadap dirimu
tak terbatas oleh cakrawala
walau badai terus berdatangan
aku akan selalu melukiskan perasaanku
hingga akhir hayatku

mei 2011 diedit tgl 24 September 2011

Puisi Bersatu


Karya : Septia Milanda

dari hulu hingga hilir kau terbentang
beribu pulau berhamburan
di sinilah tempatku dilahirkan
di negeriku Indonesia

tanah yang subur
kekayaan alam dimana-mana
hutan yang terjaga kelestariannya
panen yang melimpah

fauna yang beraneka ragam
tumbuhan dengan segala manfaat
cengkeh, gas alam, minyak yang menjadi rebutan
bersyukurlah telah lahir di negeri ini

kekayaan alam dimana-mana
flora dan fauna pun ada
raungan harimau dari Sumatera
nyanyian cendrawasih dari Papua

gagahnya garuda melambangkan negeri ini
yang tersohor dari Sumatera hingga Papua
keragaman suku, bahasa, agama yang indah membuat kita berbeda
walaupun berbeda kita tetap menyatu
di negeriku Indonesia

Puisi Tersenyum Dalam Tangis


Karya : Septia Milanda


Badan yang sudah letih
tak dapat lagi untuk berdiri
Hanya bisa sabar
dan tafakur dalam hati

            Kini senyum kecut di tanam mati
            Teriris-iris di dalam hati
            menusuk jantung hingga sukma ini
            ibaratkan hati berwarna kelabu

Tersenyum dalam tangis
Bahagia dalam kesedihan
dan tertawa dalam kesusahan
bagaikan berkhianat dengan batin sendiri

Mungkin ini teguran Tuhan
bersabar dalam setiap kehidupan
Aku hadapi dengan lapang dada
Biar susuah sungguh
Aku tak tau apa rencana-Mu
  
Hollywood, 17 sep -11

PUISI HITAM - PUTIH


Goresan Tinta Emas : Septia Milanda


Adanya keburukan
pasti ada kebaikan
Tiada kebatilan
Tiada pula kebenaran

            Hidup di dunia
            bagaikan sebuah telapak tangan
            diatas hitam
            dan dibawah putih

                        Sehampar harapan
                        dan sejuta impian
                        sirnah sudah dalam penantian
                        yang dikalahkan oleh kegelapan

            Sepai – sepai kebenaran
            telah hilang diburu kebatilan
            berburu kerelaan
            melafaskan arus mimpi

Ladang harap kebaikan berseri
hanya tafakur di liang perih
melukis harap di kanvas putih
membujuk kebenaran bersinar kembali

Hollywood, 22 Agustus 2011
           
           

"PUISI PERIH "


Goresan Tinta Emas : Septia Milanda

Hatiku tak sekuat baja
yang mampu menahan goresan luka
Hatiku bagaikan padang pasir
yang tak pernah disirami awan hitam

          Kini kau hadir di hidupku
          dibawah debu yang terbang berhamburan
          di tiup angin hingga melayang
          dan berlabuh di hati yang kelam

Tapi kehadiran dirimu
hanyalah fatamorgana bagiku
Kau semu di mataku
karena cintamu bukan untukku

          Teriris perih cinta ini
          bagaikan pisau yang membelah hati
          belati luka yang kian menjadi
          mewarnai kasih yang perih

Engkau kembali pada dirinya
melukai kenangan yang indah
kecamuk cinta, periuk cinta
menggurat hati yang terluka

          Hatiku bertanya-tanya
          entah kenapa sangat kecewa
          mungkin mentari akan hadir kembali
          dengan cinta baru penuh kasih

Sand T, 29 Agustus 2011


Pahlawan Tanpa Balas Jasa


Tema  : Pendidikan dan guru                                       Karya : Septia Milanda
Judul  : Pahlawan Tanpa Balas Jasa                                 

Guru.......
Alangkah mulia jasamu
Kau pertaruhkan tenaga dan pikiranmu
Bak menyelami mutiara di tengah lautan

Guru.....
Alangkah sabar dirimu
Walau badai menghadang kau terus berjuang
Demi anak-anakmu agar pandai

Engkaulah pelita yang menerangi hidupku
Tanpamu dunia bagai di telan malam

Kau tak pernah mengeluh
Walau cobaan terus menghampirimu

Guru..........
Kau adalah sesosok insan
Tulus, ikhlas dalam memberi
Rela berbagi tanpa pamrih

Tanpa dirimu, pendidikanku
Ibarat burung tak bersayap
Ilmu yang kau berikan sangat berharga
Bahkan emas dan permata tak sebanding dengannya

Guru......
Kau pahlawan tanpa balas jasa
Kan ku kenang selalu jasamu
Di dalam sanubariku.

Oh guruku.....


Diselesaikan : 04 April 2011

SUJUDKU

Goresan Tinta Emas : Septia Milanda


Di tengah malam-Mu
aku duduk bersimpuh
mencumbu sunyi
menghadap sang Ilahi

            Datangku tersebab waktu
            memaksa rindu pada diri-Mu
            menuangkan kegalauan
            dalam benakku

Sesayap rindu pada diri-Mu
kupetikkan biji-biji tasbih
menyebut nama-Mu
kulantunkan syair  ayat-ayat Al-quran

            Dalam keheningan malam
            mengiris kesunyian
            memohon ampunan-Mu
            suara-suara yang terpiuh
            tumpahkan tangis di atas sejadah

Sepetak air mataku
mengharap keridhoan-Mu
menadahkan kedua telapak tanganku
dan bersujud pada-Mu

            Ya Allah ...
            Kuatkanlah imanku
            bagaikan baja yang sulit dihancurkan
dan kokohkan dia
sekokoh tembok besar cina
            tegarkan batinku
            sehingga ku tak berpaling dari-Mu


Sand T, o6 Agustus 2011 di edit pada tanggal 14 agustus 2011

By :
Free Blog Templates