Minggu, 27 November 2011

PUISI DAG DIG DUG

Goresan Tinta Emas : Septia Milanda

Dag...dag...dag
Hatiku berdetak-detak
dan bergejolak sangat kencang
Bagaikan angin hitam yang menerpah awan

Dig ... dig... dig ....
Aku bagaikan setitik
embun yang dibasahi hujan semalam
dan menghilang ketika mentari datang

Dug ... dug... dug....
Hatiku mulai terpuruk
ibarat jiwa mulai remuk
dan kehidupan telah membusuk

Dag ...dig... dug...
Denyut nadiku semakin tak tentu
Hatiku mulai resah dan tak terarah
Akankah semua ini berakhir sudah

Hatiku semakin gelisah
akankah aku bisa
menhadapi semua yang ada
Oh Tuhan, teguhan hati Hamba

Hollywood, 27 November 2011

Rabu, 23 November 2011

PUISI PILIHANKU

Goresan Tinta Emas : Septia Milanda

Aku bagaikan burung kecil
yang sudah kilo menjelajah
Pengalamanku terhenti seketika
Ketika sayapku terluka

Hatiku resah
Hatiku gundah
Perjalanan ini telah mengukir kepakkanku
di setiap hembusan napas

Seketika aku harus berhenti
di akhir tujuan hidupku
Tapi disaat lukaku sembuh
Semua pilihan jatuh di tanganku

Hatiku terpuruk mati
Ibarat kayu yang terbakar api
Semangatku telah sirnah
seperti sayapku yang terluka

dengan harapan yang cerah
Aku putuskan pilihanku
melanjutkan perjalananku
Hingga menutup mata

Hollywood, 23 November 2011

Rabu, 05 Oktober 2011

PUISI AKU KECEWA


Goresan Tinta Emas : Septia Milanda

Jiwaku mulai membara
bagaikan semangat empat lima
semangatku terus berkobar
seperti sang merah putih yang berkibar

Tapi semua itu telah hilang
Hanya celotehan darinya
Semangatku telah pudar
Hingga tak tau keberadaannya

Aku kesal
Aku murkah
dan aku sangat kecewa
apalagi karna dia

Aku bukanlah superman
yang sangat hebat
dan aku bukanlah anak presiden
yang selalu engkau banggakan

Aku akan berusaha
sepenuh jiwa dan raga
untuk mencapai semuanya

Tapi aku telah kecewa
hanya karna dia
Tuhan, tolong aku
bersabar dalam setiap ujian ...


Hollywood, 3 oktober 2011

Jumat, 30 September 2011

PUISI MAKHLUK GAIB


KARYA : SEPTIA MILANDA

Zaman telah berubah
Tiada lagi manusia yang percaya
Hanya orang pintar
yang tau keberadaannya

Ada yang percaya
tapi tak sesuai dengan logika
Mereka itu ada tapi tak terlihat dengan mata
Sulit untuk meyakinkan hati
ibarat terbang tanpa sayap
Bawasanya mereka itu ada disekitar kita

Semarak senja telah memudar
Kegelapan mulai menampakkan dirinya
Tiada suara yang terdengar
Ibarat dunia ditelan malam

Angin yang meraung kencang
membuat teror ketakutan
Malam yang menebarkan keremangan
 dibawah pohon besar

Aroma sepi
membuat bullu kudukku berdiri
Disana nampaklah
gadis berkain putih

Hollywood, April 2011

PUISI SAHABAT SEJATI


Goresan Tinta Emas : Septia Milanda

Saat kukenang kau di hatiku
Aku teringat gemuruh canda tawamu
Hatiku merasa rusuh jika tak bersamamu
Aku disini sangat merindukanmu
Bagai burung yang menantikan induknya
Aku takut kau meninggalkanku
Tumpahkan tangis diatas tampah

Sahabat sejati
Engkaulah curahan hatiku
Jiwaku, jiwamu bagaikan satu jiwa dalam dua tubuh
Aku dan dirimu yak lekang oleh waktu
Tempatku berbagi cinta kasih denganmu
Ingatlah semua kenangan bersamaku


 Sand T, Mei 2011

Senin, 26 September 2011

PUISI MAAFKANLAH AKU


MAAFKANLAH AKU
goresan Tinta Emas : Septia Milanda

          Dari kesalahan
 aku belajar berbuat kebaikan
Dari perbuatan
aku belajar mengihklaskan

Aku tak sempurna ahli surga
dan aku bukanlah malaikat
yang tak luput dari dosa
Aku hanyalah manusia biasa
yang punya salah dan dosa

Maafkanlah diriku
atas celotehan mulutku
yang menusuk hingga di jantungmu
Karena beginilah aku

Seiring dengan bergulirnya waktu
akan aku coba merubah semua sifatku
Aku mohon padamu
Maafkanlah aku,,,

;(
Hollywood, 26 september 2011

PUISI ANTARA CINTA DAN PERASAAN

 
Goresan Tinta Emas : Septia Milanda
            Air mata menakung di pipih
            Nirwana hati telah dibawah pergi
            Tiada hari kulewati sendiri
            Antara benci dan cinta kasih
            Riuh tangis suara hati
            Antara dia dan perasaan ini
            Curahan hati yang perih
            Ingin mendaur ulang takdir
            Niscaya semua ini tak terjadi
            Takdir yang sudah dikehendaki
            Akan mustahil untuk kembali lagi
            Dayu-dayuan kecewa
            Amat pedih, menambah belati luka
            Nan kini, kian menjadi
            Perahu tanpa dayung
            Entah kapan akan mengapung
            Rindu yang rancu
            Asing merepih, tanpa dirimu
            Sepetak harapan mati
            Akar melepuh menjadi abu
            Alangkah pedih  mengiris hati
            Nada-nada luka semakin menjadi
Hollywood, 26 September 2011

By :
Free Blog Templates