Goresan Tinta Emas : Septia Milanda
Dag...dag...dag
Hatiku berdetak-detak
dan bergejolak sangat kencang
Bagaikan angin hitam yang menerpah awan
Dig ... dig... dig ....
Aku bagaikan setitik
embun yang dibasahi hujan semalam
dan menghilang ketika mentari datang
Dug ... dug... dug....
Hatiku mulai terpuruk
ibarat jiwa mulai remuk
dan kehidupan telah membusuk
Dag ...dig... dug...
Denyut nadiku semakin tak tentu
Hatiku mulai resah dan tak terarah
Akankah semua ini berakhir sudah
Hatiku semakin gelisah
akankah aku bisa
menhadapi semua yang ada
Oh Tuhan, teguhan hati Hamba
Hollywood, 27 November 2011
Minggu, 27 November 2011
PUISI DAG DIG DUG
Diposting oleh Septia Milanda di 02.30Rabu, 23 November 2011
PUISI PILIHANKU
Diposting oleh Septia Milanda di 21.47Goresan Tinta Emas : Septia Milanda
Aku bagaikan burung kecil
yang sudah kilo menjelajah
Pengalamanku terhenti seketika
Ketika sayapku terluka
Hatiku resah
Hatiku gundah
Perjalanan ini telah mengukir kepakkanku
di setiap hembusan napas
Seketika aku harus berhenti
di akhir tujuan hidupku
Tapi disaat lukaku sembuh
Semua pilihan jatuh di tanganku
Hatiku terpuruk mati
Ibarat kayu yang terbakar api
Semangatku telah sirnah
seperti sayapku yang terluka
dengan harapan yang cerah
Aku putuskan pilihanku
melanjutkan perjalananku
Hingga menutup mata
Hollywood, 23 November 2011
Rabu, 05 Oktober 2011
PUISI AKU KECEWA
Diposting oleh Septia Milanda di 01.03
Goresan Tinta Emas : Septia Milanda
Jiwaku mulai membara
bagaikan semangat empat lima
semangatku terus berkobar
seperti sang merah putih yang berkibar
Tapi semua itu telah hilang
Hanya celotehan darinya
Semangatku telah pudar
Hingga tak tau keberadaannya
Aku kesal
Aku murkah
dan aku sangat kecewa
apalagi karna dia
Aku bukanlah superman
yang sangat hebat
dan aku bukanlah anak presiden
yang selalu engkau banggakan
Aku akan berusaha
sepenuh jiwa dan raga
untuk mencapai semuanya
Tapi aku telah kecewa
hanya karna dia
Tuhan, tolong aku
bersabar dalam setiap ujian ...
Hollywood, 3 oktober 2011
Jumat, 30 September 2011
PUISI MAKHLUK GAIB
Diposting oleh Septia Milanda di 22.51
KARYA : SEPTIA MILANDA
Zaman telah berubah
Tiada lagi manusia yang percaya
Hanya orang pintar
yang tau keberadaannya
Ada yang percaya
tapi tak sesuai dengan logika
Mereka itu ada tapi tak terlihat dengan mata
Sulit untuk meyakinkan hati
ibarat terbang tanpa sayap
Bawasanya mereka itu ada disekitar kita
Semarak senja telah memudar
Kegelapan mulai menampakkan dirinya
Tiada suara yang terdengar
Ibarat dunia ditelan malam
Angin yang meraung kencang
membuat teror ketakutan
Malam yang menebarkan keremangan
dibawah pohon besar
Aroma sepi
membuat bullu kudukku berdiri
Disana nampaklah
gadis berkain putih
Hollywood, April 2011
PUISI SAHABAT SEJATI
Diposting oleh Septia Milanda di 20.10
Goresan Tinta Emas : Septia Milanda
Saat kukenang kau di hatiku
Aku teringat gemuruh canda tawamu
Hatiku merasa rusuh jika tak bersamamu
Aku disini sangat merindukanmu
Bagai burung yang menantikan induknya
Aku takut kau meninggalkanku
Tumpahkan tangis diatas tampah
Sahabat sejati
Engkaulah curahan hatiku
Jiwaku, jiwamu bagaikan satu jiwa dalam dua tubuh
Aku dan dirimu yak lekang oleh waktu
Tempatku berbagi cinta kasih denganmu
Ingatlah semua kenangan bersamaku
Sand T, Mei 2011
Senin, 26 September 2011
PUISI MAAFKANLAH AKU
Diposting oleh Septia Milanda di 23.55MAAFKANLAH AKU
goresan Tinta Emas : Septia Milanda
Dari kesalahan
aku belajar berbuat kebaikan
Dari perbuatan
aku belajar mengihklaskan
Aku tak sempurna ahli surga
dan aku bukanlah malaikat
yang tak luput dari dosa
Aku hanyalah manusia biasa
yang punya salah dan dosa
Maafkanlah diriku
atas celotehan mulutku
yang menusuk hingga di jantungmu
Karena beginilah aku
Seiring dengan bergulirnya waktu
akan aku coba merubah semua sifatku
Aku mohon padamu
Maafkanlah aku,,,
;(
Hollywood, 26 september 2011
PUISI ANTARA CINTA DAN PERASAAN
Diposting oleh Septia Milanda di 07.46Goresan Tinta Emas : Septia Milanda
Air mata menakung di pipih
Nirwana hati telah dibawah pergi
Tiada hari kulewati sendiri
Antara benci dan cinta kasih
Riuh tangis suara hati
Antara dia dan perasaan ini
Curahan hati yang perih
Ingin mendaur ulang takdir
Niscaya semua ini tak terjadi
Takdir yang sudah dikehendaki
Akan mustahil untuk kembali lagi
Dayu-dayuan kecewa
Amat pedih, menambah belati luka
Nan kini, kian menjadi
Perahu tanpa dayung
Entah kapan akan mengapung
Rindu yang rancu
Asing merepih, tanpa dirimu
Sepetak harapan mati
Akar melepuh menjadi abu
Alangkah pedih mengiris hati
Nada-nada luka semakin menjadi
Hollywood, 26 September 2011
Subscribe to:
Postingan (Atom)


